Dulu, Laut Aral dipandang sebagai danau keempat terbesar di dunia. Namun, danau itu tengah terancam menjadi gurun karena jumlah air kian minim.
Pemandangan yang memprihatinkan itu disaksikan langsung oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Ban Ki-moon, Minggu 4 April 2010. Saat itu, Ban mengunjungi Uzbekistan.
Ban menilai bahwa kekeringan yang terjadi di Laut Aral, yang terletak di Asia Tengah, merupakan salah satu bencana lingkungan terburuk di Bumi.

Maka, mantan menteri luar negeri Korea Selatan itu juga mendesak agar para pemimpin negara di Asia Tengah melakukan upaya untuk mengatasi persoalan di Laut Aral, yang terletak antara Kazakhstan di utara dan Uzbekistan di selatan tersebut.

Pernah dinobatkan sebagai danau terbesar keempat di dunia, kapasitas air di wilayah yang umum disebut Laut Aral itu telah menyusut 90 persen.

Pasalnya, sungai-sungai yang mengalir ke Laut Aral sebagian besar dialihkan ke sebuah proyek Uni Soviet di masa Perang Dingin untuk mendongkrak produksi kapas di daerah gersang tersebut.
Danau yang makin menyusut ini menyebabkan ekonomi yang bergantung pada perikanan bangkrut dan membuat kapal-kapal penangkap ikan terdampar di tanah kosong berpasir.

Penguapan air menimbulkan lapisan-lapisan pasir bergaram yang bisa dibawa terbang oleh angin hingga mencapai Skandinavia dan Jepang, serta menimbulkan masalah kesehatan pada warga setempat.
Ban meninjau Laut Aral dengan menggunakan helikopter. Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan Ban ke lima negara pecahan Soviet di Asia Tengah.

Ban juga berkunjung ke Muynak, Uzbekistan, sebuah kota di tepi pantai di mana sebuah dermaga membentang di antara gurun, dan hewan unta berdiri di dekat rongsokan badan kapal yang terdampar.
“Di dermaga itu, saya tidak bisa melihat apapun, saya cuma bisa melihat kuburan kapal,” kata Ban pada para wartawan setelah tiba di Nukus, kota terdekat dan ibukota wilayah otonomi Karakalpak di Uzbekistan.
“Jelas ini merupakan salah satu bencana terburuk, bencana lingkungan di dunia. Saya sangat terkejut,” lanjut Ban.

Bencana kekeringan Laut Aral merupakan salah satu persoalan utama yang diperhatikan Ban dalam kunjungan enam hari ke wilayah Asia Tengah tersebut. Dia meminta semua pemimpin negara menyingkirkan permusuhan dan persaingan, dan bekerja sama memperbaiki kerusakan ini.

“Saya mendesak semua pemimpin untuk duduk bersama dan mencoba mencari solusi,” katanya sambil menjanjikan dukungan dari PBB.

Sumber : (Associated Press)

About these ads