Letusan Gunung Eyjafjallajokull di Islandia menyemburkan abu vulkanik mengganggu penerbangan di Eropa. Ribuan penumpang tertahan di bandara, perekonomian kacau, maskapai penebangan mengalami kerugian yang tidak sedikit.

Namun, dibalik dampak luar biasa tersebut tidak ada apa-apanya jika dibandingkan Letusan Tambora di Indonesia 195 tahun lalu. Ketika itu pada tanggal 5 April 1815 gunung api tersebut mulai batuk-batuk selama beberapa hari kemudian. Pada 11-12 April letusan Tambora mencapai puncaknya. Getaran yang dihasilkan terasa sampai ratusan mil jauhnya. 10 hari berikutnya Tambora mengeluarkan lava dan bebatuan sebanyak 24 kubik mil. Begitu dasyatnya erupsi hingga menciptakan kawah selebar 3 mil dan sedalam 1 mil di puncaknya. Sekitar 117 ribu orang tewas termasuk tiga kerajaan kecil di lereng gunungnya.

Jutaan abu dan debu dilontarkan ke udara menutup atmosfer dari sinar matahari hingga mengakibatkan kegelapan total. Semburan Tambora juga menyobek lapisan tipis ozon yang melindungi Bumi dari radiasi sinar matahari. Abu dan debu Tambora melayang dan menyebar mengelilingi dunia karena pengaruh grafitasi. Debu Tambora menetap di lapisan troposfer selama beberapa tahun dan turun melalui angin dan hujan kembali ke Bumi.Berdampak pada gagalnya panen China, Eropa, dan Irlandia. Hujan tanpa henti selama delapan minggu memicu epidemi tifus yang menewaskan 65.000 orang di Inggris dan Eropa. Kelaparan melumpuhkan di Inggris. Kegelapan menyelimuti bumi meginspirasi terciptanya novel bertema mistik seperti ‘Darkness’ atau ‘Kegelapan’ karya Lord Byron, ‘The Vampir’ atau ‘Vampir’ karya Dr John Palidori dan novel ‘Frankenstein’ karya Mary Shelley.

Tambora juga jadi salah satu pemicu kerusuhan di Perancis yang warganya kekurangan makanan. Juga mengubah sejarah saat Napoleon kalah akibat musim dingin berkepanjangan dan kelaparan pada 1815 di Waterloo.

Badan Geologi Amerika Serikat atau US Geological Survey menyatakan bahwa letusan Tambora merupakan yang terkuat sepanjang sejarah Masehi, namun belum bisa mengalahkan letusan Super Volcano di Yellowstone pada masa lampau. Bahkan letusannya melebihi letusan Gunung Krakatau 73 tahun kemudian. Berdasarkan data Volcanic Explosivity Index (VEI) skala kehancuran Tambora berada pada level 7, sedangkan Krakatau pada Level 6. Setiap kenaikan satu level (level 1-8) memiliki skala 10 kali lebih kuat dibandingkan skala sebelumnya. Berarti letusan Tambora 10 kali lebih kuat dibanding letusan Krakatau.

Letusan Eyjafjallajökull yang sedemikian besar pengaruhnya terhadap dunia hanya mempunyai tingkat level VEI 2 atau 3. Jadi 10.000 kali lebih lemah dibandingkan Tambora!!!

Iklan