Penggantian Lambang lama UIN Syaif Hidayatullah Jakarta menuai banyak kritikan dari berbagai kalangan baik academia maupun independent. Logo lama yang mencantumkan kitab suci Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi umat Islam dan juga hadits, dalam logo baru yang dirilis pertanggal 21 Agustus 2008, dihilangkan dan diganti dengan logo Hexagram yang melingkari bola dunia berwarna biru dan ditutupi dengan sebuah buku terbuka dengan tulisan “UIN” di dalamnya.

Ada sejumlah kalangan yang menyatakan jika simbol UIN yang baru ini bukan Hexagram atau pun Bintang David, melainkan simbol Atheisme atau Sekularisme. Mereka beralasan jika penafsiran simbol UIN adalah Hexagram, itu terlalu dipaksakan. Namun bagi siapa pun yang mendalami bahasa simbol maka dia akan memahami jika bentuk itu memang sebuah Hexagram, bukan yang lain, karena simbol Atheisme dan Sekularisme itu dalam sejarahnya memang berasal dari simbol Hexagram.

Hexagram sendiri awalnya bukan simbol yang “menakutkan” seperti sekarang. Awalnya, simbol Hexagram dipakai oleh para pendeta penghitung bintang sebagai simbol perkumpulannya. Namun simbol ini kemudian dipakai oleh Nabi Daud a.s. sebagai stempel kerajaannya. Dan kemudian dalam perjalanannya dipakai oleh para tetua Kabbalah dan sekarang diwarisi oleh gerakan zionisme internasional, yang dipakai sebagai simbol bendera Zionis-Israel.

Acara perubahan simbol UIN yang baru ini diadakan di auditorium utama UIN dan dimeriahi oleh penampilan musik orkestra Dwiki Darmawan dan Ita Purnamasari. Selain dihadiri Rektor UIN Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, juga ada mantan rektor Drs H Ahmad Syadzali, serta Direktur MarkPlus, Hermawan Kertajaya. Hermawan menilai jika logo yang baru ini, “…melambangkan proses horizontalisasi. Ini mencerminkan kemajuan.”
Sedangkan Komaruddin Hidayat menilai jika logo yang baru ini memberikan gambaran sebuah identitas baru bagi UIN Jakarta menuju world class university. Istilah ini tentu tidak lepas dari tema besar Globalisasi. Logo baru ini sudah disepakati para guru besar tentunya.

Logo UIN Jakarta yang baru terdiri dari empat elemen: bola dunia, partikel atom, buku, dan tulisan “UIN”. Dalam keterangan resminya dikatakan jika bola dunia berwarna biru, dikatakan melambangkan wawasan universal UIN Jakarta dan juga misi agama Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Partikel atom berwarna emas menggambarkan keilmuan dan dinamika serta keajegan hukum alam (sunnatullah) yang diperintahkan Allah untuk selalu dibaca dan diteliti demi kesejahteraan umat manusia. Parikel itu juga dapat dilihat sebagai bunga lotus atau sidrah (sidrah al-muntaha), yakni lambang cita-cita setiap mukmin untuk menggapai pengetahuan kebenaran tertinggi (ma’rifah al-haq).

Kemudian kitab atau buku berwarna putih dengan garis tepi berwarna kehijauan, melambangkan sumber inspirasi dan kaidah hukum serta moral bagi pengembangan UIN Jakarta. Sementara tulisan “UIN” berwarna biru melambangkan kedalaman ilmu, kedamaian, dan kepulauan nusantara yang berada di antara dua lautan besar, yakni sebuah wilayah yang mempertemukan berbagai peradaban dunia. Selain itu, terdapat juga garis putih horizontal yang membelah tulisan “UIN”. Garis ini merupakan pengikat UIN Jakarta sebagai universitas yang kuat.

Bisa saja keterangan resmi menafsirkan demikian. Namun dalam bahasa simbol, tetap saja logo tersebut mengandung Hexagram dan jika itu kemudian ditafsirkan sebagai “bunga lotus” maka ini juga memiliki artinya sendiri yakni simbol reinkarnasi dan bunga Dewa Matahari “Ra”. Sejak 2000 tahun sebelum masehi, bangsa Mesir telah mengenal bunga Lotus yang dianggap melambangkan Dewa Nefertem, yang memberikan cahaya kehidupan pada Ra, Dewa Matahari. Menurut mereka, wangi bunga ini merupakan sumber dari kekuatan Ra. Osiris yang terbunuh juga dipercaya lahir kembali melalui bunga lotus. Sebab itu, lotus juga melambangkan kelahiran kembali atau reinkarnasi. Relief bunga lotus selalu menjadi penghias peti mumi dan makam-makam kuno di Mesir. Dalam Budhisme, Lotus dipercaya sebagai bunga kesucian, pencapaian tertinggi bagi ruh manusia. Bunga ini juga mendapat tempat istimewa dalam Hinduisme. Bunga ini juga ada dalam tradisi Cina yang menjadi alas Dewi Kwan Im. Sedangkan dalam mitologi Yunani Kuno, bunga Lotus dikenal sebagai bahan penghilang kesadaran (hipnosis) terbaik, sehingga dalam satu kisah diceritakan bahwa korban-korban bunga ini oleh Odysseus dijadikan sebagai budak.
From: http://www.eramuslim.com

Iklan