Jaringan Islam Liberal (JIL) adalah organisasi perusak akidah yang mengatasnamakan Islam. Organisasi ini mendapat dukungan penuh dari lembaga-lembaga Kafir pendukung Zionisme, baik materiil maupun moril (kesesatan). Anehnya agen-agen JIL itu sendiri adalah tokoh yang kita yang berpengaruh di dunia Islam Indonesia. Dengan label tersebut maka dengan mudah tangan-tangan Zionis masuk ke berbagai elemen dalam kehidupan kita, termasuk kampus-kampus.

Sudah sejak lama JIL menginfiltrasi kampus-kampus dengan label Islam. Sebab itu muncul wacana yang aneh-aneh dan norak, pernikahan sesama jenis misalnya. Paham liberal ini menginfiltrasi lembaga-lembaga pendidikan “Islam” tidak saja di tingkat perguruan tinggi namun saya yakin juga dari tingkat yang paling rendah, sekolah dasar misalkan. Bukan saja meracuni pemikiran anak didiknya, tetapi juga meracuni pemikiran para tenaga pengajar dan bahkan pemiliknya.

Caranya, dengan berbagai macam cara. Beberapa tahun lalu (sampai sekarang) di sejumlah pesantren di Jawa Timur, diselenggarakan “kerjasama” dengan lembaga-lembaga pendidikan sekuler Amerika dan Barat. Secara periodik, para tenaga pengajar dan juga murid-murid unggulannya, diundang untuk melakukan “studi banding” dan melawat ke Amerika. Sekembalinya dari Amerika, mereka akan lebih welcome terhadap negara tersebut dan mengatakan jika Amerika Serikat sangat baik dan sangat bersimpati terhadap Islam. Bahkan yang lebih parah ada yang mengatakan jika nilai-nilai demokrasi yang dijunjung oleh Amerika sesuai dengan ajaran Islam tentang Syuro. Ini pernah dikatakan seorang mahasiswa di salah satu kampus di Jawa Timur kepada saya. Anak ini pernah ikut dalam prgram melawat ke Amerika tersebut.

Selain itu Kedubes Amerika juga menyelenggarakan program menyuplai aneka buku tentang Amerika kepada pesantren-pesantren di Jawa Timur. Ribuan bahkan jutaan mungkin jumlahnya. Ini juga srategi cuci otak mereka.

Terhadap lembaga pendidikan yang lebih tinggi, di kampus-kampus, strateginya mungkin agak berbeda. Berbagai cara mereka lakukan, salah satunya memasukkan materi paradigma berpikir yang kelihatannya ilmiah namun sebenarnya tidak lebih dari racun. Hermeneutika misalnya. Kitab suci al-Qur’an yang sempuran dikaji melalui “teropong” bernama Hermeneutika ini dan hasilnya menjadi acana-wacana aneh tersebut di atas.

Bukankah para mahasiswa dan tenaga pengajar di perguruan tinggi Islam itu adalah orang-orang yang mengerti Islam? Ya benar. Dan cerdiknya kaum liberal itu, mereka juga mengirimkan agen-agen liberal terbaiknya yang mampu berbahasa Arab, bisa membaca Qur’an, hafal hadits, bisa membaca kitab kuning, dan mungkin juga berjenggot panjang dan jidatnya hitam, bahkan tidak mustahil juga memiliki gelar Lc (mungkin ijazahnya bikin sendiri). Kasus Snouck Hurgronje yang berpura-pura masuk Islam (Izharul Islam), bahkan menikahi perempuan Islam, masih dipakai hingga sekarang. Metode Izharul Islam inilah yang masih dipergunakan oleh kaum liberal sekarang ini karena memang terbukti ampuh.

Sebenarnya, infiltrasi paham liberal tidak saja menyerang lembaga-lembaga pendidikan, tapi menyerang semua sisi kehidupan umat Islam, termasuk bidang ekonomi, politik, budaya, dan lainnya. Jika di bidang pendidikan (dan pemikiran) mereka disebut JIL, maka di bidang ekonomi-politik mereka disebut sebagai Neolib (Neo-Liberal). JIL maupun NeoLib sesungguhnya sama saja tujuannya, yakni menciptakan The New World Order, satu tatanan dunia baru di mana pluralisme menjadi agama universal. Semua agama langit dihancurkan dan diganti dengan Pluralisme. Kreator dari semua ini adalah satu kelompok elit dunia, sering disebut para Globalis, yang berada di balik paham Zionisme. Mereka kaum Yahudi Kabbalis semuanya. Kabbalis adalah orang-orang yang menyembah Lucifer (Dajjal) sebagai tuhannya.

Sebab itu, JIL dan NeoLib disebut-sebut sebagai pelayan dari Dajjal. Ini bukan tudingan, tapi fakta. Sayangnya, sejak tahun 1967 hingga detik ini Indonesia masih saja dikuasai kaum liberal. Rezim yang berkuasa sekarang ini pun jelas-jelas NeoLib. Jika ada orang yang mengatakan jika rezim penguasa sekarang di Indonesia ini bukan NeoLib maka itu BOHONG BESAR. Fakta-fakta sudah amat sangat banyak berbicara dengan sangat jelas. Sebab itu, disadari atau tidak, semua pendukung rezim NeoLib ini sebenarnya juga mendukung kepentingan Dajjal di Indonesia. Jika semua sudah terlambat, maka bertobatlah secepatnya.

Ada satu hal yang harus kita pedomani terkait paham liberal ini: Dalam mempengaruhi umat Islam di mana pun, kaum liberal selalu menggunakan pintu masuk bernama Pluralisme, bahkan yang lebih halus disebut sebagai Pluralitas. Sebab itu, berhati-hatilah, waspadalah terhadap orang-orang Islam yang sudah kejangkitan istilah Pluralisme atau Pluralitas ini, walau pun dia mungkin fasih berbahasa Arab, lancar mengutip ayat-ayat al-Quran maupun hadits, dan sebagainya.

Rasulullah Saw selalu bersikap tegas dan jelas dalam menyampaikan dakwah Islam kepada kaum musyrikin Quraisy. Beliau Saw tidak pernah memutar-mutar lidah agar bisa disenangi kaum musyrikin Quraiys dalam menyampaikan Islam. Islam adalah Islam, dan sama sekali tidak pernah berdamai atau bersekutu dengan Neo Liberal, bagai air dengan minyak. Al-haq tidak pernah berdamai dengan al-bathil. Jika ada orang yang mengaku pejuang Islam namun bersekutu, mendukung, dan bekerjasama dengan kaum NeoLib, maka kita sudah tahu siapa sesungguhnya mereka ini. Semoga mereka cepat bertobat dengan sebenar-benarnya tobat.

Iklan