Seks dalam Piala Dunia selalu menjadi isu hangat, meskipun ajang Piala Dunia selalu berulang setiap empat tahun.  Seberapa sering, dan dengan siapa, pemain boleh melakukan seks selama Piala Dunia?  Pertanyaan ini tidak akan terlalu menarik apabila diajukan di pertandingan Olimpiade atau NBA.  Tapi tidak di Piala Dunia.  Perhelatan akbar yang satu ini memang membuat segalanya berbeda.

Dalam soal makanan saja, sebagian besar tim umumnya membawa koki dari negara mereka masing-masing. Dengan demikian, di belahan dunia mana pun pertandingan berlangsung, para pemain tetap merasakan santapan seperti di rumah mereka sendiri.  Hal yang sama juga terjadi dalam soal keamanan.  Meskipun negara tuan rumah sudah menyediakan pasukan pengamanan lengkap yang bertugas 24 jam penuh untuk mengamankan pemain, sejumlah tim tetap membawa agen keamanan khusus dari negara mereka.  Hal seperti ini tak terjadi di setiap pertandingan olahraga.

Lantas, bagaimana dengan soal seks?  Tiap-tiap negara ternyata memiliki pendekatan yang berbeda untuk menyikapi hal ini.  Inggris misalnya terkenal dengan WaGs (Wives and Girlfriends – para istri dan kekasih) yang kerapkali mendampingi para pemain.  Di Inggris, WaGs muncul di tabloid-tabloid sesering pasangan mereka.  Di samping memberikan dukungan kepada kekasih dan suami mereka, para wanita ini mencari pengakuan publik tersendiri.  Pada pertandingan Piala Dunia 2006 di Jerman, WaGs dikabarkan menghabiskan uang lebih dari satu juta dolar untuk berbelanja.

Sayangnya, pada Piala Dunia 2010 kali ini, pelatih Inggris Fabio Capello melarang WaGs untuk menyertai pasangan mereka ke Afrika Selatan.  Keberadaan WaGs dipandang Capello akan merusak konsentrasi para pemain.  Namun larangan Capello ternyata tidak sepenuhnya ditaati oleh WaGs.  Sebagian di antara mereka menyatakan, mereka akan tetap berangkat ke Afsel apabila Inggris lolos ke babak semifinal dan final Piala Dunia.

Sementara itu, tim-tim Amerika Latin umumnya menggunakan pendekatan berbeda.  Romario, striker bintang Brazil pada Piala Dunia 1994, justru terkenal sebagai kelelawar malam.  Ia mengatakan, berkeliaran dari satu klub ke klub lainnya tiap malam, membantunya menemukan insting ‘pembunuh’ yang diperlukannya di kotak penalti.  Ia juga berpendapat, melakukan seks pada hari pertandingan membuat kakinya bergerak lebih lincah.

“Seperti orang Brazil lainnya, saya senang menikmati waktu saya.  Malam hari selalu menjadi teman saya.  Ketika saya keluar di malam hari, saya selalu merasa nyaman dan selanjutnya, saya selalu berhasil mencetak gol,” kisah Romario seperti dikutip dari Vanity Fair.  Pernyataan Romario sepertinya tidak berlebihan.  Setidaknya, keajaiban seks berlaku baginya.  Romario mencetak lima gol dan dinobatkan sebagai pemain terfavorit pada Piala Dunia 1994.  Tendangan penaltinya di final bahkan membuat Brazil keluar menjadi juara Piala Dunia, mengalahkan Italia.

Legenda Brazil lainnya, Garrincha, yang bermain bersama Pele pada Piala Dunia 1958 di Swedia, terkenal karena hobinya menyelinap keluar dari jendela hotel tempat timnya menginap.  Ia melakukannya larut malam, untuk mencari anggur dan wanita.  Tak lupa, ia pun menikmati kesenangannya bernyanyi dari klub ke klub. Bahkan, ia dikabarkan menghasilkan anak dengan seorang wanita Swedia yang dikenalnya ketika Piala Dunia berlangsung.

Garrincha juga seorang pencandu alkohol, dan kemungkinan besar menderita sipilis.  Ia wafat pada usia 50 tahun.  Terlepas dari hobinya bersenang-senang tanpa batas, Garrincha adalah salah satu pemain berbakat yang sangat kreatif dan subur gol.  Selain Pele, Garrincha mungkin adalah pemain Brazil yang paling dicintai sepanjang masa.

Pada akhirnya, Donato Vallani, dokter tim nasional Argentina pada Piala Dunia 2010 ini, menyatakan bahwa seks bukanlah sesuatu yang haram bagi pemain bola.  “Para pemain dapat melakukan seks dengan istri atau kekasih mereka selama Piala Dunia.  Tapi itu tidak boleh dilakukan pada pukul 2 pagi, dengan ditemani sampanye dan cerutu Havana,” tutup Vallani.

Sumber: http://www.vivanews.com

Iklan