Stephen Griffiths, Tersangka

Di usia yang baru 40 tahun, Stephen Griffiths jelas terlihat masih tampan. Pekerjaannya bergengsi, peneliti di sebuah universitas. Griffiths kemungkinan memiliki gelar doktor bidang hukum pidana Universitas Bradford dengan spesialisasi pembunuhan.  Namun Griffiths memiliki kehidupan yang lain. Di flat mungilnya tak jauh dari kawasan “lampu merah” Bradford, Inggris, Griffiths mengembangkan“alter ego” (semacam identitas lain). Di sebuah halaman di MySpace, Griffiths muncul dengan nama samaran Ven Pariah dan username Ven99.

Ven Pariah digambarkan sebagai “Seorang yang benci orang lain, yang membawa kebencian ke dalam surga.” Dia menggunakan dua gambar utama, berusia 99 tahun dan berlokasi di Bradford. Tanggal akses terakhir adalah 23 April 2010. Griffith mempublikasikan 160 gambar ke halaman itu, mayoritas tak bisa diakses lagi, termasuk soal pembunuhan teroris dan pembunuh. Ada puluhan video musik favoritnya, mulai dari Queen sampai Duran Duran. Dia juga memasang tautan ke sejumlah pertunjukan musik di Bradford. Dia sendiri juga jadi anggota sejumlah bar punk.

Ven Pariah juga muncul membuat “wishlist” di situs Amazon. Desember tahun lalu, Ven Pariah meresensi sebuah buku berjudul “Wanita dan Hidung,” sebuah buku mengenai penjahat wanita dan eksekusinya. Ven Pariah memberi lima bintang untuk buku itu. Penulis buku, Richard Clark, disebutnya “berkompeten.” Daftar harapannya itu memasukkan 25 buku dan DVD yang umumnya soal kejahatan nyata dan pembunuh berantai.

Polisi Curiga
Polisi Yorkshire Barat menilai ada kaitan antara pemilik halaman di internet itu dengan pembunuhan tiga potongan jasad PSK di Bradford yakni Suzanne Blamires (36), Susan Rushworth (43) dan Shelley Armitage (31). Senin 24 Mei, polisi menutup halaman itu dan menangkap Stephen Griffiths. Jumat, 28 Mei 2010, Griffiths dibawa ke Pengadilan Bradford, Inggris. Polisi sendiri masih menyelidiki kaitan Griffiths yang orang tuanya bercerai saat dia kecil ini dengan tiga pembunuhan PSK lain yang belum terpecahkan. Bahkan, Griffith mungkin pula terkait dengan kasus penyerangan PSK di kawasan lampu merah Sheffield, Leeds, dan Manchester.

“Ini mungkin bukan hanya soal Bradford,” kata sebuah sumber http://www.dailymail.co.uk. Untuk kasus tiga PSK di Bradford ini sendiri, polisi memiliki bukti kuat, sebuah rekaman CCTV yang memperlihatkan seorang PSK dibunuh. Rekaman itu memperlihatkan seorang wanita yang diduga kuat Blamires diserang sampai tak sadar.

Peristiwa itu terjadi pada suatu akhir pekan. Pengelola gedung yang merekam itu segera menghubungi polisi begitu melihat rekaman itu. Tubuh Suzanne Blamires ditemukan di sebuah sungai. Sejak Kamis, polisi menggelar operasi besar-besaran mencari sisa jasad Susan Rushworth dan Shelley Armitage yang hilang akhir Juni lalu. Sebuah sisa jasad diduga ditemukan tak jauh dari jasad Blamires.

Bukti Kurang

Sementara itu, sejumlah analis kriminal dan penasihat pencarian orang telah dikerahkan membantu polisi untuk menyelidiki gaya hidup, gerakan dan pola hidup Griffiths. Peter Mann, seorang pengacara senior, menyatakan “kurang bukti” untuk mendakwa Griffiths atas tiga pembunuhan itu.  Tetangga Griffiths sendiri menilai pria berpendidikan ini penyendiri dan aneh. Seorang bekas tetangganya saat kecil menyebut Griffiths kecil “sangat aneh.” Dia tinggal bersama dua saudara dan ibunya Moira. Mereka, menurut para tetangga, tak pernah main di luar dan dinilai “aneh.”

Suatu waktu Griffiths pernah diketahui membunuh seekor burung di taman. Menginjak dewasa, Griffiths mengambil kuliah psikologi dan terobsesi dengan pembunuhan berantai. Kemudian enam tahun belakangan, Griffiths diketahui mengambil S3 bidang hukum pidana di Universitas Bradford dengan spesialisasi pembunuhan. Namun pihak universitas menolak menceritakan detail ini. Sementara ketiga korban adalah PSK yang berjuang keras melawan gaya hidup mabuk. Mereka dikenal bersahabat dan hidup berdekatan satu sama lain.

Sumber: http://dunia.vivanews.com/news/read/154082-pembunuh_berantai_bertitel_doktor_kriminologi

Iklan