Kekalahan telak 7-0 Korea Utara dari Portugal ternyata tidak bisa sepenuhnya ditonton rakyat negeri komunis itu. Sebab saat Chollima–julukan tim nasional Korea Utara–dicukur 4-0, stasiun televisi pemerintah di Pyongyang langsung menghentikan siaran langsungnya.

“Portugal menang di pertandingan ini dan memasukkan empat gol. Kami hentikan siaran langsung pertandingan ini sekarang,” kata komentator Pusat Penyiaran Korea Utara seperti dikutip BBC, Selasa, 22 Juni 2010.

Gambar di televisi pun segera berganti dengan tayangan para buruh pabrik dan insinyur yang menyampaikan puja-puji kepada pemimpin besar Korea Utara, Kim Jong Il. Korea Utara tampil memukau saat ditundukkan Brasil dengan skor 1-2. Namun, saat melawan Portugal, Chollima seperti tak mampu berbuat apa-apa dan dicukur habis 7-0.

Salah satu pemain depan Korea Utara, Jong Tae Se, mengatakan mereka sangat kecewa dengan hasil pertandingan tersebut. Dia meminta maaf karena banyak pemain yang melakukan kesalahan dalam pertandingan tersebut dan gagal membalaskan kekalahan Korut atas Portugal pada Piala Dunia tahun 1966.

Korea Utara melihat kekalahan ini bukan sebagai kekalahan biasa yang bisa segera dilupakan. Kondisi negara mereka yang saat ini menghadapi berbagai masalah, mulai dari kelaparan, tekanan sanksi dari PBB karena program nuklir mereka, hingga kecaman internasional terkait penembakan kapal perang Korea Selatan.

Laga antara Korea Utara dengan Portugal itu tercatat merupakan tayangan sepakbola Piala Dunia yang pertama kali disiarkan langsung oleh pemerintah negara itu. Siaran itu terselenggara berkat kerjasama Korea Utara dengan Lembaga Penyiaran Asia Pasifik yang berbasis di Malaysia. Kakak penjaga gawang Ri Myong Guk, Ri Myong Il dan saudaranya yang lain, terlihat gelisah saat menyaksikan pertandingan itu di flat mereka di Pyongyang. Semua terdiam saat pemain Portugal Raul Meireles mencetak gol pertama di menit ke-29.

Keadaan bertambah senyap ketika Korea Utara dihancurkan 0-7 dan dengan demikian menghapuskan peluang mereka melaju ke babak berikutnya. Seorang warga Korea Utara yang telah membelot dan tinggal di Korea Selatan, Kim Young Il, mengatakan dia khawatir akan nasib para pemain Korea Utara setelah kekalahan telak itu. “Saya yakin para pemain akan mendapat penataran ulang, dan harus mengritik diri sendiri habis-habisan,” katanya

Sejumlah pihak, termasuk mantan pelatih Korea Utara yang kini tinggal di Korea Selatan, Moon Ki Nam, mengatakan memperoleh hasil jelek di pertandingan berarti hukuman bagi para pemain sepakbola itu. Satu kemungkinan, mereka akan dikirim bekerja di tambang batubara.