Penjaja seks jalanan di Afrika Selatan gigit jari. Piala Dunia 2010 ternyata tidak membawa ledakan ‘konsumen’ dan pendapatan seperti diperkirakan semula.  Banyaknya turis yang juga penggila bola ke Afrika Selatan semula dikira akan mendongkrak pemasukan bagi penjaja seks, seperti dikutip dari laman iol.co.za, 22 Juni 2010. Namun, hanya klub kelas atas saja yang menikmati keuntungan dari turis mancanegara ini.

Banyak faktor yang membuat minimnya pendapatan para penjaja seks ini. Misalnya, aparat polisi semakin banyak diturunkan ke jalanan setelah tim nasional Mesir dirampok di kamar hotel mereka. Karena kasus ini, hotel pun sangat hati-hati dalam memberi izin masuk wanita biasa. Selain itu, jarang penjaja seks yang berani keluar karena udara di Afrika Selatan yang mendekati suhu es. Kalau pun ada yang nekat, harus siap-siap lari setiap mobil patroli polisi lewat.

Seorang penjaja seks yang tak mau menyebutkan namanya mengaku musim turis Piala Dunia ini sangat membosankan. “Kami belum beruntung. Biasanya saya dapat R4.500 (sekitar Rp5,3 juta) per bulan. Tadinya, saya berharap bisa mendapat R15.000 (sekitar Rp17,9 juta). Tapi, ternyata sepi.” Penjaja seks lainnya, Natalie, menilai kedatangan turis ke Afrika Selatan mengecewakan. Dia sempat didekati oleh beberapa orang Meksiko. Namun, saat dibawa ke hotel, Natalie tidak diizinkan masuk.

Menurut seorang supir taksi, turis-turis asing sebenarnya berminat pada penjaja seks Afrika Selatan, namun harganya dinilai terlalu tinggi. Kehidupan seks di Afrika Selatan menjadi perhatian khusus bagi panitia Piala Dunia 2010, maupun pemerintah setempat. Tingginya jumlah warga yang terinfeksi HIV/AIDS menjadi salah satu dasar kebijakan pemerintah menyebar kondom di semua tempat hiburan.

Selain itu, pemerintah bekerja sama dengan dunia pariwisata terus mengkampanyekan seks aman selama Piala Dunia ini.