Salah satu perkara yang seringkali menjadi sasaran kritik kaum liberalis terhadap para aktifis Islam ialah kurangnya jiwa sosial mereka. Aktifis Islam dianggap tidak humanis. Aktifis Islam sering dituduh hanya sibuk menjalin hablun-minallah (hubungan dengan Allah) dan mengabaikan hablun-minan-naas (hubungan dengan sesama manusia). Aktifis Islam hanya rajin ber-ibadah vertikal tapi lalai ber-’amal sholeh horizontal yang kemudian bisa dirasakan manfaatnya bagi orang lain. Oleh karenanya, ketika aktifis Islam dikomparasi dengan aktifis agama lainnya –aktifis gereja misalnya- maka mereka sering dianggap asosial, sedangkan para aktifis gereja dianggap sangat berjiwa sosial sehingga dipandang lebih humanis ketimbang para aktifis Islam. Benarkah demikian?

Stereotype seperti di atas jelaslah tidak benar. Begitu banyak pesan dari Al-Qur’an maupun Hadits yang menganjurkan seorang muslim untuk peduli dengan sesama. Di antaranya sebagai berikut:

وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا

فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا

جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

”… dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.(QS Al-Isra ayat 23-24)

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah bicara yang baik atau diam. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah menghormati tetangganya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah menghormati tamunya.” (HR Bukhary-Muslim)

Dan masih banyak sekali pesan-pesan seperti di atas yang intinya menyuruh seorang muslim untuk berbuat kebaikan kepada sesama saudaranya. Jelas ini merupakan jenis pesan yang menggambarkan betapa ajaran Islam mengandung jiwa kemanusiaan atau sebut sajalah bersifat humanis. Sehingga Rasulullah menegaskan bahwa kecintaan Allah kepada hambaNya sangat terkait dengan kebaikan hambaNya tersebut kepada sesama hamba Allah lainnya. Maka Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعَهُمْ لِلنَّاسِ

وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٍ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ

“Manusia yang paling dicintai Allah ialah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Dan perbuatan yang paling disukai di sisi Allah ialah mendatangkan kebahagiaan kepada sesama muslim.” (HR Thabrani)

Namun demikian, ini tidak berarti bahwa ajaran Islam identik atau sama dan sebangun dengan faham Humanisme. Suatu faham yang dewasa ini sangat berkembang di dunia modern, khususnya di kalangan orang-orang Barat atau orang-orang yang cara berfikirnya telah terbaratkan. Humanisme adalah suatu faham yang memandang bahwa manusia dan segenap aspirasinya merupakan hal yang paling penting di dalam kehidupan. Sehingga mulia-hinanya seseorang dinilai semata-mata pada perilaku baiknya kepada sesama manusia. Hal yang biasa diistilahkan dengan ”good deeds” atau melakukan perbuatan terpuji. Humanisme tidak mengkaitkan perbuatan baik seseorang dengan Sang Pencipta, Allah Subhanahu wa ta’aala serta hari Kemudian alias kehidupan akhirat. Yang penting orang berbuat baik, maka dia sudah dipandang sebagai seorang humanis atau moralis.

Islam mengajarkan bahwa perbuatan baik seseorang kepada sesama manusia baru akan benar-benar bernilai jika dilandasi dengan iman dan keyakinannya akan Allah dan kehidupan di Hari Kemudian alias akhirat. Jika ia berbuat baik namun tidak diiringi dengan keyakinan akan adanya hari Berbangkit, maka perbuatannya menjadi sia-sia di mata Allah. Walaupun ia tetap akan mendapat manfaat di dunia, namun di akhirat perbuatannya tersebut tidak memberi kebaikan apapun bagi si pelaku. Mengapa demikian? Karena ibarat sebuah upaya entry ke dalam sebuah situs ekslusif di dunia maya, maka ia baru akan berhasil masuk jika ia mengetahui password-nya. Perbuatan kebaikan seseorangpun demikian. Bila ia berharap perbuatan baiknya memiliki dampak yang jauh hingga ke hari Berbangkit, maka sudah selayaknya ia berbuat segenap kebaikan dengan dilandasi iman kepada Allah dan Hari Akhir. Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

إِنَّ الْكَافِرَ إِذَا عَمِلَ حَسَنَةً أُطْعِمَ بِهَا طُعْمَةً مِنْ الدُّنْيَا

وَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَإِنَّ اللَّهَ يَدَّخِرُ لَهُ حَسَنَاتِهِ فِي الْآخِرَةِ

وَيُعْقِبُهُ رِزْقًا فِي الدُّنْيَا عَلَى طَاعَتِهِ

”Se­orang kafir jika berbuat kebaikan di dunia, maka segera diberi balasannya di dunia. Adapun orang mu’min jika ber­buat kebajikan, maka tersimpan pahalanya di akherat di samping rizqi yang diterimanya di dunia atas keta’atannya.” (HR Muslim)

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْنُ جُدْعَانَ

كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ

فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ قَالَ لَا يَنْفَعُهُ إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا

رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ

Berkata Aisyah radhiyallahu ’anha: “Ya Rasulullah, di masa jahiliyyah Ibnu Jud’an menyambung tali silaturrahim dan memberi makan kepada orang miskin. Apakah hal itu dapat memberikan manfaat bagi dirinya?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjawab: “Semua itu tidak akan memberikan manfaat baginya karena sesungguhnya dia tidak pernah seharipun berdoa: ”Ya Rabbku, ampunilah kesalahanku pada hari Kamat.” (HR Muslim 315)

Siapa yang memungkiri bahwa bersilaturrahmi dan memberi makan orang miskin adalah termasuk perbuatan baik? Namun Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam secara tegas menyatakan bahwa itu semua menjadi sia-sia karena selama Ibnu Jud’an melakukannya tidak pernah sekalipun ia bermunajat kepada Allah dan mengharapkan pengampunan Allah di hari Berbangkit untuk segenap kesalahan dan dosa yang pernah dilakukannya. Artinya ia melakukan segenap amal kebaikan tersebut tanpa dilandasi iman kepada Allah dan Hari Akhir.

Itulah sebabnya bilamana Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menganjurkan kita untuk berbuat kebaikan biasanya beliau selalu mengkaitkan dengan ganjaran yang bakal diterima pelakunya, khususnya yang berdampak bagi kehidupannya di Hari Kemudian. Coba perhatikan hadits panjang di bawah ini:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعَهُمْ لِلنَّاسِ ، وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ

سُرُورٍ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً ،

أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دِينًا ، أَوْ تُطْرَدُ عَنْهُ جُوعًا ،

وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخٍ لِي فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ

مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ ، يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ ، شَهْرًا ،

وَمَنْ كَفَّ غَضَبَهُ سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ ، وَمَنْ كَظَمَ غَيْظَهُ ،

وَلَوْ شَاءَ أَنْ يُمْضِيَهُ أَمْضَاهُ ، مَلأَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَلْبَهُ أَمْنًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ،

وَمَنْ مَشَى مَعَ أَخِيهِ فِي حَاجَةٍ حَتَّى أَثْبَتَهَا لَهُ ،

أَثْبَتَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَدَمَهُ عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ تَزِلُّ فِيهِ الأَقْدَامُ

“Manusia yang paling dicintai Allah ialah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Dan perbuatan yang paling disukai di sisi Allah ialah mendatangkan kebahagiaan kepada sesama muslim atau menghilangkan darinya suatu kesulitan atau melunasi hutangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Dan aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi suatu kebutuhannya lebih kusukai daripada aku i’tikaf selama sebulan di masjid ini, yakni masjid di Madinah, dan barangsiapa menahan amarahnya maka Allah akan tutup auratnya. Barangsiapa menahan amarahnya padahal jika ia mau ia sanggup menyalurkannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan ketenteraman pada hari Kiamat. Dan barangsiapa berjalan bersama saudaranya dalam rangka memenuhi kebutuhannya sehingga terpenuhi, maka Allah akan mantapkan kakinya di atas shiroth pada hari dimana kaki-kaki terpeleset.” (HR Thabrani)

Saudaraku, jelaslah bagi seorang muslim bahwa humanisme bukan Islam. Berjiwa humanis memang merupakan bahagian dari ajaran Islam, tapi sungguh mengidentikkan ajaran mulia Al-Islam dengan ajaran duniawi Humanisme adalah suatu tindak kezaliman. Manusia yang berideologi humanisme melakukan segenap kebaikanny tanpa dilandasi iman kepada Allah dan Hari Akhir. Sedangkan seorang muslim mengerjakan kebaikan apapun senantiasa dilandasi pengharapan akan ridha, rahmat dan ampunan Allah bagi dirinya dan sesama manusia kelak di Hari Berbangkit. Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مُؤْمِنًا حَسَنَةً يُعْطَى بِهَا فِي الدُّنْيَا

وَيُجْزَى بِهَا فِي الْآخِرَةِ وَأَمَّا الْكَافِرُ فَيُطْعَمُ بِحَسَنَاتِ

مَا عَمِلَ بِهَا لِلَّهِ فِي الدُّنْيَا حَتَّى إِذَا

أَفْضَى إِلَى الْآخِرَةِ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَةٌ يُجْزَى بِهَا

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya (mengurangi) seorang mu’min hasanatnya (kebaikannya), diberinya di dunia dan dibalas di akherat. Adapun orang kafir, maka diberi itusebagai ganti dari kebaikan yang dilakukannya di dunia, sehingga jika kembali kepada Allah, tidak ada baginya suatu hasanat (kebaikan) untuk mendapatkan balasannya.” (HR Muslim)

Sumber: http://www.eramuslim.com