Anda mungkin heran mendengar bahwa kita adalah tahanan dari otak kita sendiri. Padahal, otak ada di bawah kendali kita, bagaimana mungkin kita bisa menjadi tahanan dari otak kita sendiri? Namun, para ilmuwan telah menemukan bahwa pendapat ini adalah benar. Sebuah kelompok di Smith-Kettlewell Eye Institute di San Fransisco telah menemukan bahwa kita hanya melihat apa yang yang diijinkan otak kita untuk melihat. Orang-orang sering melihat tanpa benar-benar bisa melihat bahkan ketika objek yang dilihat berada dalam medan penglihatannya.

Seperti yang dilaporkan pada terbitan 414 dari Jurnal Nature, subjek (orang yang diteliti) dari studi ini telah diperlihatkan beberapa titik-titik biru berputar dengan sebuah background berupa titik-titik kuning yang tak bergerak. Tetapi semua titik-titik kuning tidak nampak dari pandangan subjek. Titik-titik kuning telah dibuat tidak kelihatan. Bukan oleh komputer, tetapi olah otak orang itu sendiri. Titik-titik kuning tersebut masih ada di layar, tetapi orang-orang itu tidak melihatnya. Artikel itu mengingatkan bahwa otak kita membentuk konsep tentang apa yang terlihat di dunia.

Berdasarkan konsep-konsep ini, otak akan menentukan apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilihat.  Pada percobaan ini, orang yang diteliti ditunjukkan titik-titik berwarna biru yang berputar dan titik warna kuning yang tak bergerak, tetapi otak mereka hanya mengijinkan melihat titik berwarna biru. Fenomena ini disebut sebagai motion induce blindness (gerakan menyebabkan kebutaan). Para peneliti yakin bahwa hal ini terjadi di dalam keseharian kita, tetapi kita secara sederhana tidak menyadarinya. Contohnya, ketika kita mengendarai mobil di jalan raya dengan banyak lampu-lampu mobil, seorang pengemudi sering tidak memperhatikan lampu belakang dari mobil yang ada sisi sampingnya.

Kita semua percaya bahwa apa yang kita rasakan melalui organ indera kita adalah nyata.  Kita menerima apa yang diproses otak kita melalui indera  adalah benar. Dari penelitian ini, kita mengetahui bahwa pendapat ini tidak benar. Adalah otak kita yang menentukan apa yang bisa dilihat dan apa yang tidak bisa dilihat. Lantas siapa yang menentukan apa yang otak kita  lihat? Siapa  yang sebenarnya memberi tahu otak kita bagaiamana dunia itu seharusnya? Kenyataannya apa yang mata kita bisa lihat adalah terbatas.  Mata kita hanya  bisa mengindra cahaya yang kelihatan dengan panjang gelombang dari 312nm sampai 1.050nm. Pada kedua level makroskopik dan mikroskopik, semua yang bisa kita lihat adalah hanya bagian kecil dari alam semesta ini, dan obyek yang masuk dalam penglihatan kita hanya bisa dilihat setelah seleksi oleh otak kita.

Kemampuan kognitif kita dibatasi oleh keterbatasan dari alat indera kita. Sebuah hasil penelitian yang dipublikasikan pada 17 mei 2002, di majalah Science  melaporkan bahwa  bayi usia  enam bulan  mempunyai kemampuan yang lebih besar  untuk mengenali wajah orang dan binatang dari pada bayi usia sembilan bulan. Ditambah lagi, bayi usia enam bulan bisa mengenali perbedaan dari berbagai bahasa, sedangkan bayi usia 9 bulan hanya bisa mengenali perbedaan dalam satu bahasa saja.

Kita semua percaya bahwa kemampuan-kemampuan kita didapatakan selama proses pendidikan pasca kelahiran. Tetapi, kenyataanya beberapa kemampuan yang benar-benar menakjubkan secara perlahan hilang pasca kelahiran. Kita tahu bahwa ada beberapa  catatan di kebudayaan oriental dan barat tentang  kemampuan supernormal manusia. Kini laporan-laporan seputar kemampuan supernormal dianggap sebagi mitos. Tetapi kita bisa mengamati kemunduran dari kemampuan manusia, seperti kemunduran  dari kemampuan bayi usia enam bulan dan bayi usia sembilan bulan.

Karena kita mempunyai sepasang mata fisik dan sebuah otak yang memerintah dengan gagasan-gagasan tentang bagaimana dunia ini sebenarnya, kita tidak bisa melihat gambaran sejati dari dunia kita sendiri. Kembali ke jati diri yang asli adalah jalan untuk memahami misteri kehidupan.

Iklan