Memperingati Perang Korea pada 25 Juni lalu (di Korea disebut Perang 6.25 atau Perang Korea), beberapa media Korea Selatan melaporkan buku pelajaran SMP China telah memutar-balikan fakta peperangan tersebut. Central Daily News — salah satu dari 3 koran besar Korea yang menuntut pihak China segera meluruskan kesalahan tersebut. Tiga harian Korsel, Central Daily News, Harian Korea, dan Kantor Berita Korsel Yonhap baru-baru ini melaporkan, dalam buku pelajaran sejarah kelas dua SMP jilid ke-2 yang diedarkan PKC (Partai Komunis China) tertulis, dalam perang Korea adalah Amerika Serikat menginvansi Korea. “AS dengan terang-terangan mengirim pasukan melakukan invansi terhadap Korea. Pasukan PBB yang dipimpin AS melewati garis demarkasi militer, kobaran api perang disebarkan hingga tepi sungai Yalu”, serta menyebutnya sebagai “perang saudara Korea”, lagi pula tujuan PKC ikut dalam peperangan dilukis sebagai ”mempertahankan kedaulatan rakyat dan negara”.

Dalam laporan itu juga disebutkan, bahwa dalam buku pelajaran sejarah itu bahkan tertulis, serangan itu mengakibatkan kerugian materi dan jiwa yang tak terhitung jumlahnya serta berlangsung 3 tahun lamanya dan berakhir setelah tercapai dan ditanda-tanganinya  perjanjian gencatan senjata, semua ini diputar-balikkan sebagai akhir dari kemenangan China dan Korea dalam perang Korea. Central Daily News (22/6) menggunakan analisa para ahli mengatakan, tujuan PKC menyebut peperangan kali ini sebagai perang saudara adalah demi mengalihkan tanggung jawab perang tersebut kepada AS, sedang China dan Korea dilukiskan sebagai pihak yang mengalami kerugian, dengan kata lain, PKC ingin menunjukkan, bahwa demi menghalau invasi AS terhadap Korea, PKC terpaksa “melawan AS mendukung Korea” untuk “mempertahankan kedaulatan rakyat dan negara”.

PKC Hindari Pertanyaan Reporter

Yonhap dalam jumpa pers rutin (21-22/6) meminta pemerintah China menyampaikan pendiriannya yang jelas tentang Perang 6.25 yang disebut sebagai perang saudara. Tetapi jubir kementerian luar negeri China, Qingang, malah menjawab, “Ketentraman dan perdamaian di Semenanjung Korea yang diperoleh dengan tidak mudah itu seharusnya dihargai.” Yonhap  menegaskan, meskipun jubir kementrian luar negeri China menghindar pendirian pemerintah China, tapi apa yang ditulis dalam buku pelajaran sejarah China “adalah AS yang menginvasi Korea” sudah menjelaskan pendiriannya.

Central Daily News dalam studinya menemukan masyarakat Tionghoa pada umumnya telah terpengaruh oleh pendidikan buku pelajaran sejarahnya yang memutarbalikkan fakta, mengingat masalah tersebut sangat serius, maka pada (21/6) lalu mereka menyerukan kepada PKC, “Harus segera memperbaiki kesalahannya.”

Kilas Balik Perang Korea

25 Juni 1950 dini hari, tentara rakyat Korut melanggar garis perbatasan militer selatan-utara, memasuki Korsel melakukan penyerbuan sehingga meletuslah Perang Korea yang berlangsung selama 3 tahun lebih dan  berakhir setelah ditanda-tangani perjanjian gencatan senjata pada 1953. Perang Korea adalah peperangan Kim Il Sung dari Korut yang menyerang Korsel, perang agresi Korut yang didukung Stalin dan Mao Zedong, pasukan Korea Selatan bersama pasukan gabungan PBB membendung ekspansi kekuatan komunis, adalah sebuah peperangan yang melindungi dunia bebas, juga mewakili negara bebas dan demokratis.

Deklarasi Kairo, Desember 1943 menjamin kemerdekaan Korea, Deklarasi Potsdam Juli 1945 juga sekali lagi mengakui dan menjamin kemerdekaan Korea. Akan tetapi yang disebut merdeka di sini adalah “pada waktu yang tepat” sebagai syarat. Dalam kondisi demikian, 15 Agustus 1945 Jepang menyatakan menyerah, Semenanjung Korea yang sebagai koloni Jepang, menurut kemudahan militer lalu membagi Korea menjadi Selatan dan Utara menurut garis pemisah 38, masing-masing diduduki AS dan Uni Soviet. Perang Korea dimulai, Tentara Rakyat Korut dengan serangan keras memukul mundur pasukan Korsel, dengan cepat mencapai posisi unggul, dan pada hari ke-3 telah menduduki Kota Seoul.

Ketika AS mengetahui telah meletus perang Korea, dengan segera diselenggarakan sidang Dewan Keamanan PBB dan menerima resolusi yang menyatakan serangan yang dilakukan Korut,  adalah “tindakan agresif” yang merusak perdamaian, menuntut Korut menghentikan tindakan itu, menarik mundur ke utara Garis perbatasan-38. Bersamaan itu, meminta bantuan anggota PBB, serta menghentikan segala bantuan yang diberikan kepada Korut. Akan tetapi tuntutan PBB ditolak Korut, dan tetap meneruskan peperangan.

Pada 7 Juli, Dewan Keamanan PBB menerima resolusi yang menetapkan AS diberi hak kepemimpinan tertinggi, dan memutuskan Jenderal Mac Arthur dari AS sebagai Komandan pertama Pasukan PBB, mengutus pasukan PBB ikut dalam perang. Pada 15 September, pasukan PBB mendarat menduduki Incheon, 26 September masuk ke Seoul. Demi mencapai keinginan mempersatu Korea, Presiden Korsel Rhee berpendirian maju terus menuju Utara. Pada 1 September presiden AS pernah menyatakan, terhadap masalah penyatuan Korea beliau bersikap positif.

Pada 27 September AS mengizinkan pasukan PBB melewati Garis-38 melakukan tindakan militer. Namun demi menghindar terjadinya peperangan antar negara besar, AS melarang keras pasukan darat maupun udara melewati batas negara Uni Soviet dan China. Akhir Oktober, sebagian pasukan PBB telah mendekati tepi Sungai Yalu. Mao atas permintaan Kim Il Sung, dan di bawah janji Soviet akan memberi bantuan, 19 Oktober PKC telah mengirim Pasukan Sukarelawan Rakyat ikut dalam peperangan, masing-masing di pertempuran ke-2 dan ke-3 menduduki Pyong Yang dan Seoul, serta memaksa pasukan PBB menarik mundur sampai selatan Garis-38.

Setelah itu pasukan PBB balik menyerang, sekali lagi kembali menduduki Seoul, garis pertempuran kembali di sekitar Garis-38. Sejak itu, walaupun peperangan terus terjadi, namun pangkalan perang tidak mengalami perubahan besar, selalu bertahan di sekitar Garis-38. Pada 27 Juli 1953, kedua belah pihak akhirnya menandatangani persetujuan gencatan senjata, peperangan yang tanpa kemenangan yang telah berlangsung 3 tahun 10 bulan akhirnya berhenti.

Xu Ping, Guru Besar jurusan Sejarah Universitas Beijing pernah menyampaikan kepada media: “Sekarang melalui media, internet dan pelajaran di perguruan tinggi, rakyat China makin mengetahui sejarah perang Korea bukan seperti yang dibayangkan sebelumnya, dikatakan imperialis AS menyebarkan peperangan hingga tepi Sungai Yalu, dan mengancam China baru.”

“Sesungguhnya kalian makin jelas, Kim Il Sung yang meletuskan tembakan pertama, mencetuskan peperangan. Latar belakang yang lebih mendalam adalah, setelah revolusi China mencapai kemenangan, Uni Soviet dan China menandatangani perjanjian persahabatan, Uni Soviet kehilangan kepentingan istimewa di China dalam sistem Yalta-nya, China mengambil kembali pelabuhan Dalian dan Li Shunkou. Namun karena Stalin memerlukan sebuah pelabuhan di laut Pasifik, sebuah pelabuhan yang tidak pernah beku, untuk mengimbangi AS dan Jepang, sehingga dalam batas tertentu secara diam-diam mereka mengizinkan keinginan Korut mengambil kembali Korea bagian selatan. Dengan demikian Korut baru berani mencetuskan peperangan tersebut.”

Sekarang rakyat China telah mengetahui, “Sebenarnya saat itu kita sedang membantu Korut berperang, dan makna setingkat lebih mendalam adalah kita sedang membantu Stalin berperang”, dengan demikian, keabsahan sejarah perang “menentang AS membantu Korut” akan dipertanyakan kembali.

Iklan