Sebuah asteroid berukuran besar memiliki kemungkinan terhempas ke Bumi. Asteroid yang disebut 1999RQ36, memiliki peluang  menabrak Bumi 1: 1.000 pada tahun 2182 — seperti diungkapkan ilmuwan, Maria Eugenia Sansaturio dari Universidad de Valladolid, Spanyol. Sansaturio dan beberapa ilmuwan lain menggunakan model matematika untuk menentikan risiko asteroid 1999RQ36 menabrak Bumi pada tahun 2200. Namun, mereka menemukan risiko itu datang 18 tahun lebih awal. Ada dua peluang potensial asteroid menabrak Bumi di tahun 2182. Detil penelitian ini dimuat dalam jurnal ilmiah, Icarus.

Asteroid 1999 RQ36 ditemukan pada tahun 1999, ukuran panjangnya sekitar 560 meter. Batu angkasa sebesar ini — menurut National Academy of Sciences — bisa menyebabkan kerusakan secara luas di Bumi. Para ilmuwan telah melacak asteroid orbit 1999RQ36 melalui pengamatan optik dan 13 survei radar. Namun masih ada ketidakpastian yang disebabkan dorongan lembut yang diterima dari efek Yarkovsky.

Efek Yarkovsky — namanya sama dengan insinyur Rusia, IO Yarkovsky — menggambarkan asteroid memperoleh momentum dari radiasi termal yang dipancarkan dari ‘sisi gelap’-nya. Selama ratusan tahun, efek tersebut memiliki pengaruh yang substansial pada orbit asteroid. Sansaturio dan rekan-rekannya menemukan bahwa melewati tahun 2060, tipis kemungkinan tabrakan terjadi antara 1999RQ36 dengan  Bumi. Namun, peningkatan ganjil terjadi pada 2080 — saat orbit asteroid mendekati Bumi.

Asteroid lalu akan menukik dan menjauhi Bumi — kemudian pada tahun 2162 dan 2182 –kembali berayun mendekat ke Bumi. Ini adalah tarian orbital yang rumit, yang membuat penjabaran makin sulit dilakukan. “Risiko dari kompleksitas dinamik ini tak hanya memunculkan kemungkinan dampak yang besar, tapi juga prosedur defleksi yang realistis (deviasi jalan) hanya dilakukan sebelum 2080, atau sebelum 2060,” kata Sansaturio.

Dia menambahkan, setelah tahun 2080, Bumi  akan lebih sulit untuk menangkis asteroid. Penemuan ini menguatkan pendapat bahwa  bahwa pemantauan dampak asteroid  harus lebih dari 80 atau 100 tahun sebelum bencana tiba. “Mungkin satu abad sebelumnya.” Dengan memperluas rentang waktu, para ilmuwan akan punya peluang lebih besar untuk mengidentifikasi batuan ruang angkasa yang paling mengancam dengan waktu yang cukup — untuk mempersiapkan teknologi dan finansial, mencegah kehancuran di Bumi.