Masalah kesulitan makan pada anak sering dihadapi oleh orangtua dan berdampak negatif pada tumbuh kembang anak.  Masalah makan pada anak juga menetap sampai ia dewasa, bila ia makan terlalu banyak, akan obesitas, sedangkan bila makan sulit/sedikit, gizinya kurang (buruk). Perkembangan keterampilan makan berpengaruh pada masalah kesulitan makan pada anak. Pada usia anak 6 – 9 bulan adalah periode kritis, dimana anak belajar mengunyah makanan yang teksturnya semakin padat. Bila makanan selalu diblender halus, maka anak akan mengalami masalah oral-motor. Pada seminar “Smart Children Excellent Mother” (CIPRIME – FKUI), dr. Sri S. Nasar dari Departemen Kesehatan Anak FKUI-RSCM memaparkan beberapa hal mengenai masalah kesulitan makan pada anak.

Tips mengatasi anak susah makan:

– Makan 3x sehari dengan teratur diselingi snack di sore hari (bisa berupa buah-buahan).

– Jangan ngemil diantara waktu makan karena bisa membuat anak kenyang dan enggan makan makanan utama.

– Kurangi distractor (faktor pengganggu) di kala makan, seperti main sambil makan atau sambil nonton TV. Anak yang sibuk main atau nonton bisa lupa mengunyah sehingga makanannya diemut terus.

– Sebaiknya anak makan duduk di kursi makan (highchair), tidak jalan-jalan.

– Bila dalam 30 menit makan tidak selesai, sebaiknya berhenti, jangan sampai makan berjam-jam.

– Variasi menu dan penyajian yang menarik.

– Ciptakan suasana yang menyenangkan, misalnya makan dengan teman, atau dilibatkan didalam membuat makanan (melihat ibu memasak/mengolah makanan).

– Bagi anak yang hobi mengemut makanan, berikan contoh bagaimana cara untuk mengunyah dan menelan makanan.

– Dampingi anak (makan bersama) dan ikut makan yang sama

– Sejak usia 3 tahun, biasakan anak makan bersama keluarga di meja makan

– Orangtua juga harus mengubah kebiasaan makan pilih-pilih karena anak bisa menirunya.

– Hindari melimpahi piring makan anak dengan banyak makanan sekaligus

– Beri pengertian bahwa makanan baik untuk anak cepat tinggi besar, pintar dan kuat seperti kakak / tokoh film idolanya / temannya yang lebih besar.

– Beri pujian bila anak berhasil menghabiskan makanannya

– Jangan pernah memaksa anak menghabiskan makanannya, apalagi anak yang sedang tantrum (ngamuk) menolak makan.

– Bila sudah cukup besar, ajari anak makan sendiri, jangan terus menerus disuapi. Saat mulai mengajak anak untuk makan sendiri, ciptakan suasana yang menyenangkan. Usahakan pula supaya tak terkesan memaksa dalam bentuk apa pun. Untuk tahap awal, orang tua bisa memberikan contoh bagaimana cara makan yang baik: dari duduk manis, bagaimana cara memegang sendok kemudian mengangkatnya, menyuapkannya ke mulut, kemudian mengunyahnya dengan benar. Dengan melihat contoh konkret tersebut anak jadi punya gambaran mengenai apa yang harus dilakukannya dengan makanan tersebut. Dalam hal ini dibutuhkan kesabaran ekstra dari orangtua, tapi hasilnya pasti akan menggembirakan.

Ada juga penyebab kesulitan makan karena penyakit, hal ini harus diperiksa oleh dokter. Bisa karena kelainan bawaan di mulut, saluran cerna, penyakit metabolik atau organ lain.  Dalam hal ini, orangtua harus memperhatikan grafik tumbuh kembang anak dan berat badan sesuai umur.

Iklan