Archive for April, 2011



Pasca kerusuhan Cikeusik, Pandeglang, Banten, 6 Februari 2011, yang menewaskan tiga jemaat Ahmadiyah, ada sejumlah (banyak, bejibun) pembela aliran sesat Ahmadiyah berkomentar di berbagai media massa. Yang menarik, dari sekian banyak para pembela Ahmadiyah ini, ada satu keluarga anak-beranak yang terlihat konsisten dan setia menjadi pembela Ahmadiyah, meski aliran ini sudah pernah dinyatakan sesat oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan Bahtsul Matsail NU (Nahdlatul Ulama). Anak-beranak yang setia membela aliran sesat Ahmadiyah ini adalah keluarga mendiang Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Selain Gus Dur dan istrinya (Shinta Nuriyah), ternyata-anak-anak mereka juga pembela Ahmadiyah. Sebagaimana bisa ditemukan pada berbagai media terbitan 4 Mei 2008, mendiang Gus Dur pernah ditanya sejumlah wartawan mengapa ia membela Ahmadiyah? Ketika itu Gus Dur mengatakan, “…karena mereka kaum minoritas yang perlu dilindungi dan saya tidak peduli mengenai ajarannya…” Baca Selengkapnya…


Dalam sebuah sumber yang tersebar di dunia maya menyebutkan bahwa WR. Soepratman adalah seorang pengikut Ahmadiyah. Tidak ada yang tidak mengenal tokoh legendaris ini. Para nasionalis bangsa Indonesia sangat hafal lagu yang diciptakannya. Tiap hari pelajar sekolah bahkan wajib menyanyikannya dalam upacara sekolah, sambil membentangkan tangan ke kening menghormat sebuah kain merah putih yang diderek petugas. Tidak hanya itu anggota DPR pun kerap menyanyikan lagu bernuansa nasionalisme ini ketika hendak memulai rapat. Mau itu dari partai nasionalis, sosialis, atau partai Islam sekalipun. Bahkan Kelurahan Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, warganya yang hendak membuat KTP diharuskan untuk menyanyikan lagi kehormatan bagi bangsa Indonesia ini demi mengobarkan semangat patriotisme kepada Negara dan Pancasila.

WR. Soepratman memang selama ini dikenal sebagai pencipta lagu Indonesia raya. Namanya sangat tersohor karena lagu tersebut dijadikan lagu wajib bagi rakyat Indonesia. Hari kelahiran Soepratman sendiri pada tanggal 9 Maret, oleh Megawati saat menjadi presiden RI, diresmikan sebagai Hari Musik Nasional. Isu seputar darah Ahmadiyah di tubuh Pahlawan Nasional tersebut diamini oleh Amir Nasional Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), Abdul Basith. Ia mengatakan, selama berkembang di Indonesia sejak tahun 1953, JAI telah aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan termasuk dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Seperti dikutip inilah.com, 16/2, Salah satu pengurus besar Jemaah Ahmadiyah tersebut kemudian melanjutkan bahwa bangsa Indonesia berhutang besar kepada Ahmadiyah, karena, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya ternyata diciptakan oleh Jamaah Ahmadiyah. Baca Selengkapnya…


Janggutnya tebal. Tubuhnya tambun. Ia berikrar agama adalah candu, bahkan benalu. Kendati demikian, ia dipuja sekaligus dibenci. Meski tuhan baginya hanya iming-iming bagi orang sulit. Iya, dia memang kesal terhadap Agama. Dengan mata kepala sendiri, ia menyaksikan kepengecutan ayahnya sebagai pendeta Yahudi yang menarik kata-kata dalam khotbahnya di bidang reformasi politik hanya karena takut dikucilkan sebagai bangsa Yahudi. Baca Selengkapnya…