Dahulu ada seorang tuan tanah yang sangat kaya, tetapi hatinya selalu merasa kosong, merasa masih kekurangan sesuatu. Pada suatu hari, istrinya berkata kepadanya apa yang kurang dirumahnya ini adalah seorang menantu. Tuan tanah ini berpikir, ‘betul juga’, dia sudah memiliki segalanya hanya tidak ada menantu, tetapi mau mencari seorang wanita yang sebanding dengan kekayaannya guna menjadi menantu di negri ini, tidak ada seorangpun kecuali putri dari raja. Tetapi ingin meminang putri raja tentu hartanya harus lebih banyak dari raja. Lalu bagaimana bisa menjadi lebih kaya lagi?

Karena hal ini, setiap hari dia tidak bisa makan dan tidur, sampai akhirnya dia jatuh sakit. Pada suatu hari, istrinya bertemu dengan seorang pendeta, pendeta ini bertanya kepada istrinya, “Kenapa sudah lama tidak melihat suamimu lagi?”

Istri tuan tanah ini lalu bercerita, setelah mendengar cerita istri tuan tanah ini, pendeta ini berkata, ”oh ya, persoalan ini sangat gampang, biar saya bertemu dengan tuan dulu, saya jamin dia segera akan turun dari ranjang dan bisa berjalan.” Akhirnya, istri tuan tanah ini setengah percaya setengah tidak membawa pendeta ini pulang ke rumahnya.

Pendeta ini setelah bertemu dengan tuan tanah, berkata kepadanya,”Tuanku, saya baru pulang dari Tibet,  setahu saya di Tibet ada seorang Buddha hidup yang sangat berbelas kasih, apa saja permintaan anda dia akan mengabulkannya, barang apa saja yang engkau minta dia akan mengabulkannya.”

Tuan tanah ini langsung tertarik dan berkata, ”Benarkah?”

Pendeta ini menjawab, ”Tentu saja benar, cepatlah membuat persiapan melakukan perjalanan, supaya permintaanmu segera terkabul.”

Tuan tanah ini memerintahkan istrinya mempersiapkan peralatannya melakukan perjalanan jauh.

Istrinya berkata, ”Bukankah engkau sedang sakit keras? Kenapa harus tergesa-gesa melakukan perjalanan yang jauh?”

Tuan tanah menjawab, ”Hal ini tidak dapat ditunda, jika orang lain yang duluan sampai, saya akan kehilangan kesempatan ini, oleh sebab itu, saya akan segera melakukan perjalanan.”

Istrinya tidak dapat melarangnya, akhirnya hanya bisa menyediakan berbagai makanan kering, air dan pakaian.

Tuan tanah setiap hari tanpa berhenti melakukan perjalanan akhirnya setelah 5 hari dia sampai ke tujuan, bertemu dengan Buddha hidup, dia berlutut dihadapan Buddha hidup, memohon kepada Budha hidup supaya mengabulkan permintaannya.

Budha hidup dengan belas kasih berkata, “Apapun permintaanmu, akan saya kabulkan.”

Tuan tanah ini berkata, ”Yang paling banyak terdapat di Tibet ini adalah tanah,  oleh sebab itu, yang saya inginkan adalah tanah.”

Budha hidup berkata lagi, ”Boleh, berapa banyak yang engkau inginkan?” Tuan tanah berpikir, jika meminta terlalu banyak, susah mengucapkannya, jika terlalu sedikit, apakah tidak sia-sia saja segala jerih payahnya berjalan 5 hari tanpa berhenti?

Budha hidup melihat dia susah mengambil keputusan, lalu berkata kepadanya, ”Begini saja! Besok setelah malam engkau datang kembali ke sini, setiap langkah tanah yang engkau lewati akan menjadi milikmu.”

Tuan tanah mendengar perkataan Budha hidup hatinya sangat gembira! Keesokan harinya, hari belum terang dia sudah melanjutkan perjalanan, dia berlari terus, sejenak pun tidak berani berhenti; merasa sangat kehausan juga tidak berani berhenti untuk minum. Dia takut melangkah kurang satu langkah, maka tanahnya akan menjadi berkurang.

Ketika hari mulai senja, matahari sudah tenggelam, dengan sangat enggan dia berlari memutar balik menuju ketempat Budha hidup, setelah sampai di tempat Budha hidup hari telah gelap.

Budha hidup bertanya kepadanya, ”Sudah berapa jauhkah engkau berlari? Apakah ini semua sudah cukup?”

Dengan nafas terengah-engah dan kelelahan dia berkata, “Ini masih kurang,” Setelah  berkata demikian, dia terjatuh di depan Budha hidup dan menghembuskan nafas terakhir.

Tuan tanah ini berlomba lari dengan nasibnya, dengan susah payah dia berlari sampai tidak berani berhenti meminum seteguk air; setelah sampai di tempat tujuan, dia masih merasa tidak cukup, coba dipikirkan, kehidupan manusia ini sibuk setiap hari tanpa berhenti, sebenarnya untuk apa? Apakah hanya demi untuk mendapatkan harta yang lebih banyak?

Tetapi kebanyakan manusia selalu berpikiar, “Memiliki satu kekurangan Sembilan.” Ketika dia memiliki uang 10 juta, dia akan berpikir, hanya dengan lebih giat dan menghemat sedikit, saya akan mencari 90 juta lagi, saya bisa mengumpulkan menjadi 100 juta, setelah memiliki 100 juta dia akan berpikir memiliki 1 milyar….. Didalam hati selalu merasa tidak cukup terus.